Oleh: Danu Aris Setiyanto
Dalam ilmu biologi ada sistem klasifikasi makhluk hidup. Makhluk hidup terdiri dari tiga jenis, yaitu: manusia, hewan, dan tumbuhan. Rincian klasifikasi makhluk hidup berikutnya ditemukan oleh Carolus Linnaeus. Dia terkenal dengan taksonomi Linnaeus, yaitu sistem klasifikasi ilmiah makhluk hidup yang kini digunakan secara luas dalam biologi. Kita biasa melihat tiga jenis tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Namun jarang terdapat pikiran hakikat dari ketiga-ketiganya, atau bahkan tidak pernah berfikir filosofinya salah satu dari ketiga tersebut, misalnya manusia.
Pertanyaan-pertanyaan ini diharapkan dapat membantu manusia sadar dan bisa mencapai tingkat kesadaran yang tinggi sesuai prinsip agama Islam/ al Qur'an.
"Apa itu manusia?"
"Dari mana manusia?"
"Untuk apa manusia?"
"Mau kemana manusia?" dll.
Manusia itu secara singkat adalah gabungan fisik dan nonfisik, material dan nonmateriil. Manusia memiliki arti secara biologi, rohani, dan antropologi. Dalam al Quran manusia itu setidaknya memiliki fisik dan rohani atau lahir dan batin. Jika ditelaah dalam surat al-Baqarah ayat 155 yang artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan."
Maka jelas ada fisik dan nonfisik yang akan diuji oleh Allah/ Tuhan. Ketakutan merupakan perwakilan dari sifat batin manusia itu sendiri. Bahkan disebutkan secara jelas bahwa manusia diuji dengan kekurangan jiwa. Sedangkan yang lain adalah cobaan fisik manusia, seperti kelaparan, kekurangan harta, buah-buahan. Maka jelas, Islam mengatakan bahwa manusia itu terdiri dari jiwa dan raga. Bahkan Islam telah mengingatkan jika manusia tidak kehidupan jiwa/ rohani dapat dikatakan seimbang dengan hewan bahkan lebih rendah dari itu. Sebagaimana dalam surat Al A'raf: 72.
Untuk menjawab hakikat manusia secara jelas, maka bisa dikutip dari pendapat seorang Imam, yaitu Ja’far As-Shodiq. Ketika dia ditanya: "Lebih mulia mana manusia atau malaikat? Kemudian dia menjawab:
“Allah memberikan akal tanpa syahwat kepada malaikat. Dan memberi syahwat tanpa akal kepada binatang. Dan dia memberi akal dan syahwat kepada manusia. Maka, siapa yang akalnya mengalahkan syahwatnya maka dia lebih mulia dari malaikat. Dan siapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya maka dia lebih sesat dari binatang.”
Maka dengan jelas bisa dimaknai bahwa manusia adalah jasad secara fisik, dan ruh/ jiwa yang abstrak tidak bisa dilihat secara langsung.
Secara biologis, nama latin "manusia" adalah Homogen Sapiens (Linnaeus, 1758). Dalam klasifikasi ilmiah termasuk dalam: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mamalia; Ordo: Primata; Famili: Hominidae Upafamili: Homininae; Bangsa: Hominini; Genus: Homo; Spesies: H. sapiens. Manusia yang tergolong mamalia ini tergolong memiliki kemampuan otak yang tinggi dibandingkan dengan makhluk lain.
Secara antropologi, manusia dinilai memiliki kemampuan berbahasa, berorganisasi dalam berbagai kelompok yang majemuk sehingga menimbulkan berbagai budaya di dunia. Selain itu manusia juga berperan dalam perkembangan teknologi.
Menjawab Asal Manusia, ada sebuah teori yang terkenal hingga sekarang, yaitu teori Evolusi. Teori evolusi dicetuskan oleh Charles Robert Darwin (1802-1882). Teori ini menyatakan bahwa: " Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan". Darwin berpendapat bahwa manusia berasal dari makhluk sejenis kera yang berkembang menjadi hewan kera tingkat tinggi dan akhirnya menjadi manusia. Pendapatnya ini didasarkan kepada penemuannya yang mirip manusia, yaitu Austropithecus yang umurnya 350 ribu- 1 juta tahun. Dia mengamati perkembangan pada volume otak yang berkembang. Namun teori ini tidak menjelaskan volume otak yang tidak berkembang dalam manusia modern dari yang disebut manusia kera (Neandebtral). Sehingga kemudian teori ini ditinggalkan karena tidak sesuain dengan fakta.
Dalam Islam, manusia awal berasal dari Adam Allaihis Salam yang diciptakan dari tanah. Hal ini bisa didapatkan dalam al Quran as Sajdah: 7 dan al Hijr: 26. Sebagai orang Islam, al Quran adalah referensi yang tidak bisa terbantahkan secara keimanan. Sehingga apapun nama teorinya apabila tidak sesuai dengan prinsip Islam seharusnya diabaikan dan ditinggalkan.
Manusia itu mulia, maka hendaknya menjaga kemuliaan itu.
26 September 2016








