Tasawuf Modern: Kebahagiaan Versi Hamka

Oleh: Danu Aris Setiyanto

Tulisan ini mengingatkan sebuah keakraban dan kebaikkan bersama akhir tahun 2015 dan awal 2016 ketika Ustadz Abdurrahim bersama penulis harus menyelesaikan penulisan penelitian tentang Pembaharuan Tokoh Tasawuf di Kulon Progo, DIY sebagai seorang akademisi di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sebagai rekan peneliti, kemudian mencari referensi tentang tasawuf. Maka bertemulah dengan sebuah buku tasawuf dari tulisan tokoh terkenal Indonesia: Buya Hamka. Buku tersebut berjudul “Tasawuf Modern, Bahagia itu Dekat dengan Kita, Ada di dalam Diri Kita”.

Siapa yang tidak kenal Buya Hamka? HAMKA adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Seorang pengarang, pujangga, dan filosofi Islam telah diakui oleh semua lawan dan kawannya. “Tafsir Al-Azhar” telah ia selesaikan sebagian besar terselesaikan dalam tahanan dua tahun tujuh bulan. Kitab tersebut mencapai 30 jilid. Tulisan itu hanya sekian tulisan dari karyanya yang mencapai sekitar 100 lebih dalam berbagai bentuk.

Tokoh kelahiran Sumatra Barat, 17 Februari 1908 ini juga seorang tokoh politik dan pemerintahan. Dia juga merupakan tokoh Muhammadiyah. Berkat jasa-jasanya dibidang penyiaran Islam, dia mendapat Doctor Honoris Causa dari Majelis Tinggi University al-Azhar taun 1959. Tahun 1975 beliau juga gelar serupa dari Universitas Nasional Malaysia atas jasanya dibidang Kesusateraan. Pengukuhan guru besar diterimanya dari Universitas Moestopo, Jakarta.

Banyak hal penting yang tak cukup untuk ditulis tentang ketokohan seorang Buya Hamka, tapi sebuah catatan penting dan positif bahwa dia pernah mengundurkan diri hanya karena sebuah fatwa. Hamka meletakkan jabatanya sebagai ketua MUI tanggal 19 Mei 1981 karena desakan Pemerintah untuk menarik/membatalkan fatwa haram MUI atas perayaan Natal bersama bagi Umat Muslim.

Lalu apa “Tasawuf Modern”? Pengertian tasawuf sangatlah banyak. Tetapi kemudian Hamka menyimpulkan bahwa tasawuf adalah “keluar dari budi pekerti yang tercela dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji”. Hanya kemudian dengan keterangan “Modern”.

Kebahagian mungkin menjadi sebuah kebutuhan yang sulit dicapai di era modern oleh sebagian orang. Hal ini disebabkan adanya tantangan kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan dan lain-lain yang sulit.
Mungkin ada yang berpendapat bahwa kebahagiaan ketika rumah ada perkakas lengkap dengan perhiasannya, ada mobil, bisa bertamasya bersama keluarga dan orang dekat, memiliki banyak uang dan lain-lain. Ada juga yang mengatakan kebahagian itu ketika menjadi buah bibir karena kebaikan yang pernah dilakukan. Seakan tak ada habis untuk mengartikan dan berpendapat “apa itu bahagia?”, karena semua mengartikan kebahagian sesuai kebutuhan dan logika setiap individu manusia.

Selanjutnya, HAMKA kemudian mengutip dari beberapa tokoh yang ia sebut sebagai “Pendapat Cerdik Pandai tentang Bahagia”. Seperti Hutai’aH, mengatakan: “Menurut pendapatku, bukanlah kebahagiann itu pada mengumpulkan harta benda.# Tetapi TAQWA akan Allah itulah bahagia. Taqwa akan Allah itulah bekal yang sebaik-baiknya disimpan# Pada sisi Allah sajalah kebahagiaan para orang yang taqwa.” Tak lepas dari itu dikutipnya pendapat Zaid bin Tsabit: “Jika petang dan pagi seorang manusia telah mendapat rasa aman sentosa# dari gangguan manusia, itulah dia orang bahagia”. Sedangkan pendapat lain seperti al-Ghazali disebutkan: “ Bahagia dan kelezatan yang sejati bilamana mengingat Allah.”
Begitulah sekelumit pemikiran HAMKA tentang makna Bahagia.

Seringkali orang mencari bahagia dengan mengorbankan waktu, tenaga, keluarga, bahkan nyawa. Padahal, bahagia dekat dengan kita, ada di dalam diri kita.
Semoga hari menjadi penuh kebahagiaan bersama orang tercinta disekitar, dunia dan akhirat.

#Happines is not the absence of problems, It’s the ability to deal with them.#
Waallahu a’alam.

0 comments:

Post a Comment

Silahkan meninggalkan komentar!