Menggali Filosofi Puasa Ramadan
(Kritik terhadap Budaya Konsumsi Masyarakat)
Oleh: Danu Aris Setiyanto
(Kritik terhadap Budaya Konsumsi Masyarakat)
Oleh: Danu Aris Setiyanto
Bulan Ramadan memang disebut dengan bulan untuk ibadah. Dengan demikian, berbagai persiapan disiapkan oleh umat muslim di seluruh dunia. Banyak hal yang terjadi saat akan bulan Puasa, atau sering disebut bulan Ramadan.Persiapan tersebut dari fisik hingga yang bersifat rohani, baik dilakukan secara individu maupun kelompok, baik rakyat biasa hingga pejabat negara.
Bukan hanya masyarakat pada umumnya yang melakukan persiapan jelang Ramadan, namun pemerintah sebagai penyelenggara pemerintahan juga melakukan persiapannya. Misalnya saja, Kementerian Agama harus siap melaksanakan sidang itsbat penentuan awal Ramadan, Kementerian Perdagangan mengatur harga kebutuhan pokok di pasaran, penegak hukum juga sibuk menertibkan dari kawasan bebas PKL hingga tempat yang rawan sebagai “tempat maksiat”. Presiden pun juga menghimbau tentang harga daging sapi supaya tidak naik atau dibawah 80 ribu rupiah. Hal itu tentunya dikoordinasikan oleh sejumlah pihak dengan harapan Ramadan benar-benar menjadi bulan yang berkah untuk umat Islam.
Fenomena lain yang ada juga terletak di acara stasiun televisi. Televisi saat jelang dan saat Ramadan akan menyuguhkan berbagai acara religi. Baik itu dari iklan, bentuk film, bentuk lomba, bentuk ceramah, dan berbagai bentuk lain.
Jika dikaitkan dengan judul di atas, ada sebuah penting dicermati terkait konsumsi masyarakat saat bulan Ramadan. Hal tersebut adalah adalah belanja saat menjelang Ramadan. Belanja dalam masyarakat tentu saja bukan hanya dilakukan saat bulan tertentu, tapi tentunya setiap saat. Namun, jika hanya untuk belanja saat Ramadan dan berlebihan itu sesuatu yang tidak perlu dilakukan.
Hal ini bisa diamati dengan adanya beberapa naiknya kebutuhan pokok di pasaran saat menjelang Ramadan. Fenomena ini adalah hal yang biasa terjadi setiap tahun. Salah satu indikasinya adalah pada tingkatan berita nasional, naiknya harga daging sapi adalah berita utama menjelang puasa. Naiknya harga kebutuhan pokok memang bukan berita baru setiap tahun. Secara teori ekonomi sederhana, beberapa alasan yang ada adalah tingginya permintaan masyarakat yang tidak sebanding dengan jumlah persediaan. Walaupun demikian, pada sisi lain terkadang ada kecurigaan terhadap sejumlah oknum yang menimbun barang atau sengaja menjadikan langka daging tersebut dan akhirnya naiklah harga kebutuhan masyarakat tersebut.
Terlepas dari semua fenomena di atas, maka perlu dicermati bahwa puasa secara etimologis adalah menahan. Adapun secara syar’i, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sepeti makan, minum, dan jimak di siang hari yang dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dan disertai dengan niat.
Tulisan ini akan menjelaskan singkat tentang keadaan sosiologis sebagian dari masyarakat saat berpuasa dan dikaitkan dengan sebagian hikmah disyariatkannya puasa dalam Islam.
Prinsip dalam menjalankan puasa tentunya dilakukan dengan sungguh-sungguh sesuai ajaran dalam Islam. Puasa Ramadan adalah puasa yang diwajibkan Allah kepada orang-orang yang beriman. Puasa ini harus dimulai dengan niat saat waktu malam. Kemudian disunahkan untuk sahur menjelang terbit fajar. Seorang yang berpuasa dilarang melakukan hal-hal yang membatalkan puasa bahkan juga dilarang untuk melakukan hal-hal yang mengurangi pahala puasa itu sendiri. Orang yang berpuasa juga dianjurkan untuk beramal shaleh baik yang wajib maupun yang sunnah. Seperti shalat malam, bersedekah, infak, zakat, banyak berdoa, i’tikaf di masjid, membantu sesama, dan lain-lain, Jika tidak bisa melakukan puasa Ramadan karena halangan seperti sakit , musafir, hamil dan lain-lain, maka sudah ada beberapa alternatif sebagai ganti puasa tersebut. Dari mengganti di hari lain, membayar fidyah.
Banyak hikmah puasa bulan Ramadan sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu yang ditulis oleh Syekh Ali Ahmad al-Jurjawi yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Toyib Arifin dengan judul Menyingkap Hikmah Perintah Ibadah. Banyak hikmah disyariatkannya puasa, di antaranya adalah sebagai bentuk syukur, sebagai bentuk pengajaran untuk menjaga amanah, belajar zuhud untuk mengekang nafsu, berlatih tidak rakus, mengurangi syahwat jimak, bersimpati dan memiliki kasih sayang terhadap fakir miskin. Pada intinya semua kemudian disebut sebagai orang yang bertaqwa kepada Allah.
Namun, hikmah puasa tersebut di atas kadang tidak sejalan dengan realita budaya sebagian masyarakat di Indonesia. Hal ini bisa dimaklumi karena tingkatan keimanan setiap orang berbeda, tingkatan keilmuan tentang puasa juga berbeda-beda.
Selain adanya budaya berbelanja yang berlebihan saat bulan Ramadan, masih ada kebiasaan yang berlebihan lain seperti tidak membeli makanan yang terlalu banyak saat menjelang berbuka puasa. Selanjutnya mereka juga makan terlalu banyak dan kekenyangan. Hal itu bisa saja terjadi bukan hanya ketika berbuka, namun juga saat sahur. Padahal pola makan sehat dengan pesan Nabi adalah perut diisi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk dikosongkan. Bukan hanya disitu, untuk menyiapkan berbuka puasa terkadang diperlukan dengan biaya yang mahal dan berlebihan jumlahnya.
Padahal puasa sendiri mengatur manusia untuk bisa sederhana, bukan berlebihan dengan menyiapkan makanan yang terlalu banyak, dan terlalu mahal. Budaya ini seakan tak disadari bahkan terus berlanjut serta mengakar kuat di masyarakat. Dengan adanya bulan Ramadan, hendaknya bisa lebih hemat tetapi dalam realita justru tidak terjadi. Misalnya saja, makan yang terlalu banyak saat berbuka puasa tentu saja tidak Islami dan bertentangan dengan hikmah puasa untuk tidak menjadi orang yang rakus. Sesuatu yang berlebihan tentu tidak dibenarkan dalam Islam. Hikmah puasa yaitu zuhud tentu tidak bisa tercapai jika kemudian orang tidak menahan yang “terlalu” walaupun itu halal dan sehat.
Oleh sebab itu, dengan penjelasan di atas maka diperlukan sebuah gerakan masyarakat yang lebih menyesuaikan syariat daripada budaya masyarakat yang sebenarnya apabila ditelaah justru tidak islami. Umat muslim hendaknya menyiapkan serta makanan dan minuman ketika berbuka puasa dan sahur dengan secukupnya saja, dan tidak berlebihan serta tidak harus mahal (yang penting sehat/baik dan halal).
Pada akhirnya, ramadan bukanlah untuk lomba berbelanja; Ramadan juga bukan lomba untuk makan banyak; bukan lomba untuk membeli makanan yang mahal dan hal negatif lainnya. Marilah menyambut dan melaksanakan puasa Ramadan dengan penuh keimanan dan harapan menjadi orang yang bertaqwa di sisi-Nya. Hal itu dengan jalan bersungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah baik yang wajib maupun yang sunah, yang batin maupun yang dhahir, yang berkaitan dengan individu maupun dengan masyarakat yang lain.
_______________________Aku berpuasa dan berbuka, aku salat dan tidur. Aku menikahi perempuan. Ketahuilah, tubuhmu juga punya hak untuk istirahat. Maka barang siapa yang tidak suka dengan sunahku, tidak akan termasuk dalam golongan umatku___________________________________________
Semoga bermanfaat,
Surakarta, 3 Juni 2016


0 comments:
Post a Comment
Silahkan meninggalkan komentar!