Korupsi itu Budaya atau Dibudayakan?
Oleh: Danu Aris Setiyanto
Oleh: Danu Aris Setiyanto
Suatu hari dilakukan observasi ke sebuah lembaga resmi yang menangani pajak kendaraan bermotor namun bukan wilayah asal asli penulis dan masih wilayah Soloraya.
Ketika belum masuk ruang utama pembayaran, sudah harus membayar distribusi sukarela yang diwajibkan dari salah satu instansi yang bergerak di bidang kesehatan. Nilai rupiah yang dibayarkan sangat kecil sebenarnya, namun jika dibandingkan dengan daerah lain retribusi ini tidak wajib bahkan tidak ada.
Setelah masuk di ruang utama, maka ditaruhlah berkas yang untuk pajak itu. Entah ada apa sebenarnya pada bagian ini. Tapi yang jelas ada tambahan berkas untuk administrasi esek-esek ataukah cek nomor mesin kendaraan bermotor. Tapi lama juga rasanya untuk menunggu proses berikutnya. Pada saat ambil berkas itu petugas sudah meminta uang Rp 20.000,-. Saat itu ya diproses saja dan dibayarkanlah uang sejumlah itu. Sesaat kemudian, keluar dari gedung utama kemudian bertemu dengan petugas pengecek nomor kendaraan. Pada saat sudah selesai, petugas pun kemudian juga meminta sejumlah biaya yang kecil. Namun intinya disini para pembayar pajak kemudian tetap memberikan uang itu.
Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan ke suatu ruang tertentu seperti ruang untuk validasi cek nomor. Saat itu lagi-lagi ada tarif biaya Rp 10.000. Pada tahapan terakhir kemudian kembali ke ruang utama dan melaksanakan transaksi pajak dengan sewajarnya.
Sebenarnya keinginan bertanya biaya-biaya yang non tertulis resmi itu untuk apa dan siapa yang punya ide untuk itu sudah kuat dalam otak. Setidaknya ada satu hal yang perlu dijawab dan urgen yaitu ada tidaknya aturan untuk meminta sejumlah uang itu dengan berbagai alasan terlepas besar atau kecil biaya tersebut. Kalau itu disebut semacam korupsi, gratifikasi, suap, dan semisalnya apakah hal itu bisa termasuk di dalamnya? Yang lebih ingin diketahui itu adalah apakah itu yang disebut budaya dari masyarakat dan petugas di dalamnya.
Di tengah pemerintah semangat memberantas korupsi tapi justru masyarakat sendiri menciptakan budaya korupsi. Pertanyaan berikutnya, apakah peristiwa ini terjadi di seluruh Indonesia? Jika iya maka sangatlah berbahaya karena secara alam bawah sadar masyarakat terbiasa sudah mendukung untuk korupsi.
Keinginan akan melapor hal ini sebernarnya ada, hanya saja tak mungkin bisa dilakukan kalau tidak ada bukti bahwa itu adalah tindakan korupsi dan atau semisalnya. Setidaknya, ada sebuah biaya resmi yang tertulis secara eksplisit dibeberapa tempat yang mengidentifikasi biaya yang resmi dan sah secara hukum.
Ada spanduk "Jangan gunakan jasa Calo" Tulisan ini sepertinya hanya seperti perhiasan yang tidak jelas fungsi. Karena bagaimana tidak demikian, karena secara fakta di bawah/ di sekitar spanduk tulisan ini banyak calo-calo yang menawarkan jasanya.
Hidup dengan kejujuran itu kadang memang sulit. Padahal lingkungan itu merupakan salah satu di lingkungan penegak hukum. Melakukan kejujuran di negeri ini terkadang malah dikatakan " sok bersih, sok suci, sok jujur, sok ...". Bahkan bisa dikatakan bahwa kejujuran dianggap sesuatu yang dibenci atau malah bisa saja orang jujur bisa dipenjara. Mungkin aneh, tapi entah hal itu ada atau tidak.
Padahal itu hanya dalam satu instansi belum observasi kepada instansi lain. Oleh sebab itu, maka diperlukan sosialisasi kepada masyarakat tentang edukasi untuk transaksi kepada instansi publik seperti pajak agar tidak ada tindakan yang bertentangan dengan hukum.
Terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan isi tulisan di atas, maka perlu ditegaskan bahwa masyarakat jangan mendorong berbudaya korupsi. Itu sangat tidak etis. Lembaga pemerintah harus menciptakan budaya anti korupsi bukan sebaliknya. Sistem akuntabel, transparan, dan bermatabat dalam sebuah instansi pemerintah tentu merupakan kunci kepercayaan publik terhadap sistem pemerintahan yang bebas dari KKN.
Ini tulisan merupakan sebuah inspirasi untuk kebaikan bersama. Semoga kedepannya, Indonesia memiliki sistem yang lebih baik, bersih dari korupsi.
Korupsi adalah Kejahatan yang Menghancurkan Kehidupan karena ketidakjujuran.
Mari berbagi Inspirasi untuk Hidup yang Lebih Berarti!
20 September 2016


0 comments:
Post a Comment
Silahkan meninggalkan komentar!