Awal Tahun Hijriah: Mengikis Sedimentasi Agama dan Budaya
Oleh: Danu Aris Setiyanto
1 Muharram disebut juga dalam istilah orang Jawa dengan 1 Syuro. Saat inilah juga disebut sebagai pergantian tahun dalam sistem kalender Islam atau kalender Jawa.
Peringatan pergantian tahun baru Hijriyah ini juga tidak kalah dengan tahun baru Masehi. Pada saat tahun baru Masehi, manusia di dunia hampir seluruhnya disibukkan dengan bunyi terompet dan kembang api di seluruh tempat terutama di daerah perkotaan. Mereka juga menyempatkan diri berkumpul bersama keluarga dan orang-orang terdekat untuk berkumpul bersama dan bergadang mengelilingi kota atau santai bersama keluarga.
Saat tahun baru Hijriyah, agak sedikit berbeda terutama di wilayah Jawa. Sebagian masyarakat jawa memperingati hari pergantian tahun dengan bermacam-macam budaya. Pengaruh aliran animisme dan dinamisme serta pengaruh kerajaan Islam sangat bisa diamati diindikasikan sebagai pemicu berbagai macam tradisi budaya jawa ini. Kegiatan tersebut misalnya Sampah Mubeng di Yogyakarta, Kirab Pusaka di Solo, Tradisi Bubur di Jawa Barat dan lain-lain. Jika diperhatikan di luar Jawa pun juga ada acara untuk 1 Syuro, misalnya tradisi Tabir di Bengkulu, dan tradisi Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat.
Ada 2 hal untuk memahami terkait tradisi memperingati 1 Muharram tiap tahun ini, yaitu secara budaya dan secara agama. Budaya merupakan hasil cipta, dan akal manusia. Budaya juga mirip dengan arti tradisi, karena budaya bisa diartikan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah.
Dalam Islam budaya atau adat dapat diterima secara agama apabila memenuhi beberapa persyaratan, yaitu
1. Perbuatan yang dilakukan logis dan relevan dengan akal sehat.
2. Perbuatan, perkataan yang dilakukan selalu berulang-ulang, boleh dikatakan sudah mendarah daging pada perilaku masyarakat.
3. Tidak bertentangan dengan ketentuan nash, baik al Qur'an maupun as-Sunnah.
4. Tidak mendatangkan kemudaratan serta sejalan dengan jiwa dan akal yang sejahtera.
Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim hendaknya memiliki bangunan aqidah yang kokoh sehingga memiliki filter atau tameng yang kokoh terhadap segala hal yang berkaitan dengan peringatan tahun baru Islam di beberapa daerah. Hal ini supaya kemurnian tauhid tidak hilang dalam diri seseorang hanya karena ingin sebuah trend budaya.
Budaya memang perlu untuk dilestarikan sebagai masyarakat Indonesia yang penuh dengan keanekaragaman budaya. Namun bukan berarti mengorbankan aqidah yang merupakan janji kepada Sang Illahi, maka budaya dapat dilestarikan dengan 4 syarat di atas.
Semoga dengan tahun baru Hijriyah 1438 H, Allah tetap memberikan hidayah untuk tetap istiqomah sesuai al Quran dan as-Sunnah dan dijauhkan dari segala amalan bid'ah. Dengan penuh harapan, semoga hidup menjadi lebih bermanfaat dan berkah, diberikan keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, serta diberikan harta yang melimpah untuk jihad fi sabilillah.
Amiiin.
Catatan 1 Muharram 1438 H
Surakarta, 3 Oktober 2016


0 comments:
Post a Comment
Silahkan meninggalkan komentar!