Tuhan, Kumohon Like dan komentar di Status Facebook-ku!! (Pendekatan Religi dalam Penggunaan Media Sosial)

Oleh: Danu Aris Setiyanto


“Catat agenda selesaikan tugas”; Alhamdulillah akhhirnya sembuh juga ni ......, mksih s**miku yg dah perhatiin di saat aku sedang sakit”; “Masih ngga percaya, cpt bgt. Semoga ***nul khotimah, buk”; “Kaki di kepala, kepala di kaki ...cappex bolehkh aq menangis”; “Astagfirullah, Alhamdulillah”; “On dp ** ribu. Plus udah ***** ongkir ** ribu”; “sabar ya Allah ... cukup ** wae seng ngrasake**”.

Begitulah beberapa tulisan terdapat di salah satu media sosial (MedSos). Berbagai macam status tentang pribadi, keluarga, keluh kesah, curahan hati, doa dan lain-lain dapat mudah ditemukan dengan berbagai variasi bahasanya.

Fenomena menulis di berbagai media sosial bukanlah hal yang baru. Media sosial yang ada dari facebok, whatsapp, twitter, instagram, peach, wanelo, yik yak, google + dan lain-lain semua seakan laris dipakai para pengguna medsos. Medsos menghadirkan berbagai fitur untuk penggunanya sehingga berkomunikasi dan saling tukar informasi satu dengan yang lainnya dengan berbagai macam, baik dari tulisan, gambar ataupun dengan bentuk video.

Tak jarang informasi yang dibutuhkan masyarakat pada umumnya bisa didapatkan dari medsos dengan sangat mudah dan praktis. Informasi itu mulai dari pemerintahan, hukum, keamanan, ekonomi, kegiatan masyarakat, iklan, jual beli dan lain-lain. Kemudahan yang ada inilah kemudian bisa dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk hal yang positif. Pemerintah bisa lebih cepat menerima saran dari rakyat, pengusaha juga bisa jual beli dengan online, akses transportasi juga lebih mudah dengan tiket tanpa harus antri dan lain-lain.

Tapi dibalik kemudahan di bidang teknologi komunikasi, tak jarang pula orang terkena kasus hukum karenanya. Jika pun tidak sampai ditangani oleh pihak penegak hukum, tapi tetep saja ungkapan cibiran, makian, dan atau kata kasar lain juga bisa muncul apabila ada salah seorang pengguna sosmed yang melanggar norma masyarakat. Misalnya saja, seorang artis yang tidak berpakaian berlebihan dan mengumbar yang seharusnya ditutupi maka tak jarang komentar buruk bisa menimpanya.

Dalam tulisan ini hanyalah sedikit komentar atas fenomena update status di beberapa sosial dan itupun hanya beberapa hal saja yang terkait dengan kehidupan pada umumnnya atau berkaitan dengan Tuhan.

Pada hakikatnya manusia memang tidak dalam kondisi stabil ketika hidup di dunia. Ketika manusia hidup di fase dunia, tidak ada kebahagiaan yang abadi, dan juga tidak ada kesedihan yang abadi. Bahkan semua yang ada di dunia tidak ada yang abadi. Manusia ada kalanya bahagia, tetapi kadangkala kesedihan muncul. Kesehatan manusia juga tidak selamanya baik, ada kalanya sakit. Dan begitulah semisalnya.

Dalam berbagai kondisi itulah manusia yang beriman dituntut untuk selalu bersyukur atas segala keadaan yang menimpa dirinya di dunia. Hal ini diharapkan agar dirinya mendapatkan kebahagian batin dan rohani tersendiri dengan kedekatannya kepada Tuhan.

Manusia juga disebut mahkluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Oleh sebab itu kemudian diberikan Tuhan kemampuan untuk berkomunikasi dengan bahasa masing-masing. Manusia kemudian dapat mengungkapkan apa yang diinginkannya kepada manusia yang lain, dia juga dapat menerima pesan dari orang lain dan kemudian meresponnya kembali.

Pada awalnya manusia bisa berkomunikasi dengan dua arah dan harus saling bertemu. Seiring dengan perkembangan teknologi manusia bisa berkomunikasi dengan orang lain tanpa harus bertemu dengan keterbatasan waktu dan tempat. Hingga saat ini gaya komunikasi manusia semakin berkembang pesat tanpa ada batas ruang dan waktu. Komunikasi dapat dilakukan dengan jumlah yang dalam satu waktu sekaligus dan dengan biaya yang murah serta praktis dengan genggaman tangan saja. Inilah yang disebut media sosial sebagaimana tersebut di atas.

Sementara keadaan manusia antara yang satu dengan yang lain berbeda dalam menanggapi fenomena medsos. Sebagian orang menggunakan itu untuk kepentingan bisnisnya, ada juga yang menggunakannya untuk kepentingan akademisinya, ada juga yang digunakan untuk kepentingan politiknya dan lain sebagainya.

Jika diperhatikan ada gejala dan bisa saja disebut ketakutan yang tersembunyi dibalik sosmed, yaitu adanya status keluhan dan rintihan antar manusia yang harusnya ditujukkan kepada Sang Penguasa Alam. Tak sedikit pengguna sosmed berkeluh kesah kehidupannya kepada Tuhan lewat sosmed. Ketakutan yang dimaksud adalah kadang tidak disadari bahwa manusia lebih suka mencurahkan segala perasaan, segala keadaannya, segala senang dan sedihnya bukan kepada Tuhan namun kepada sosmed dengan menulis status di dalamnya. Sehingga akhirnya, seakan beranggapan sosmed lebih cepat merespon, berkomentar, memberikan tanggapan serta memberikan solusi kepadanya daripada Tuhan. Tuhan seakan dilupakan, doa yang dipanjatkan pun tak jadi dimintakan karena sudah ditulis dalam sosmed. Begitulah kehidupan, mungkin sebagian manusia juga berpikir Tuhan juga punya akun medsos. Sebagian yang lain mungkin lebih berdoa lewat medsos daripada minta langsung kepada Tuhan. Sebuah yang berlebihan jika medsos adalah Tuhan baru sebagai tempat ratapan manusia. Jangankan sebagai tempat, menjadi perantara dirinya dengan Tuhan saja itu sudah menjadi hal tidak bisa dibenarkan secara keimanan.

Jika diperhatikan manusia yang beriman tentu saja menggantungkan segala urusannya kepada Tuhan bukan kepada selainnya. Urusan keimanan memang urusan tiap masing-masing manusia. Tetapi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah memberikan saran agar sebagai seorang manusia kemudian tidak menjadi rendah derajatnya hanya karena tidak bersandar kepada Yang Maha Kuasa.

Sementara Tuhan Sang Maha Pencipta memiliki Kekuasaan Yang Abadi dan Kekal. Haruslah disadari bahwa Tuhan adalah Maha Mendengar, sehingga tidaklah takut jika Tuhan tak mendengar keluh kesah seorang hamba. Sosmed hendaklah cukup dijadikan tempat mencari solusi masalah kehidupan bukan menceritakan masalah atau keluh kesah bahkan sebuah doa yang hendaknya langsung kepada Tuhan secara berlebihan. Selain itu sosmed hendakanya dimaknai sebagai tempat menebar kebaikkan dan menyebarkan keilmuan, informasi yang bermanfaat, saran, pendapat dan atau hal lain yang tidak dianggap sebagai hal yang berlebih-lebihan baik secara makna ataupun secara bahasa, baik bahasa dalam bentuk tulisan atau gambar atau video dan atau lainnya. Hendaknya dicermati bahwa semua apa yang ditulis dalam medsos dibutuhkan tanggung jawab individu atau tanggung jawab terhadap sosial. Maka oleh sebab itu, tindakan yang dilarang dalam akses medsos baik dari hukum negara mauopun hukum agama hendaklah juga ditinggalkan.

Dengan segala apa yang dijelaskan di atas, maka hendaknya seorang muslim yang taat kepada negara dan agamanya dapat mempergunakan medsos dengan sebaik-baiknya. Hal ini dibuktikan dengan adanya penggunaan yang tidak berlebihan, menuliskan sesuatu yang tidak berlebihan, dan juga tidak digunakan untuk hal-hal yang terlarang baik secara hukum agama dan atau hukum negara. Selain itu hendaklah digunakan untuk mencapai sebuah kemaslahatan bersama baik dalam setiap insan, dalam masyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Semoga bermanfaat,
Surakarta, 18 Mei 2016

0 comments:

Post a Comment

Silahkan meninggalkan komentar!