Oleh: Danu Aris Setiyanto
Banyak orang yang dikenal dalam hidup baik itu makhluk hidup atau benda tak hidup. Banyak cerita disetiap sisi kehidupan, banyak kenangan di setiap pengalaman hidup seorang insan. Namun, mungkin masih banyak manusia yang bingung akan dirinya sendiri. Bingung apa yang akan diperbuat untuk hidup, banyak orang yang tidak paham arti sebuah kehidupan. Bahkan banyak manusia yang merasa dirinya tidak berguna untuk orang lain, bahkan tak jarang manusia mengakhiri hidupnya karena dia sudah bosan dan tidak berguna hidup di dunia.
Di bawah ini mungkin hanya sepenggal kisah yang pernah ada dalam hidup. Tanpa mengabaikan catatan hidup yang lain, maka perkenankanlah tulisan ini adalah secuil kisah seorang mahasiswa prestasi yang pernah dikenal penulis, profil pribadinya, serta harapannya ke depan untuk kampus yang dibanggakan. Harapan yang muncul dari tulisan ini adalah memberikan motivasi untuk tetap berprestasi dengan sebaik-baiknya atau tetap berkarya dengan maksimal supaya tercapai sebuah kehidupan yang lebih baik. Lebih dari itu,saling berbagi pengetahuan, pengalaman dan perjuangan hidup adalah sebuah hal yang penting untuk dilakukan, agar disetiap relung-relung jiwa manusia dipenuhi hikmah hidup dan inspirasi.
Mungkin sekitar 2 tahun lalu, perkenalan dengan seorang mahasiswa berprestasi ini berlangsung secara tidak langsung dan berjalan begitu saja. Perkenalan itu adalah mengenal orang yang sekarang menjadi mahasiswa terbaik pada acara wisuda periode ke-33 IAIN Surakarta, 8 Oktober 2016. Saat itu tidak terbayangkan bahwa gadis berparas mungil ini adalah seorang yang sekarang di puncak prestasi secara nilai akademisi dengan IPK 3,75 dengan masa studi 3 tahun 10 bulan. Bukan hanya terbaik di tingkat Fakultas, namun mencapai yang terbaik setingkat kampus almamaternya itu.
Secara singkat perkenalan itu mungkin sudah ditadirkan untuk melahirkan inspirasi sebuah karya yang menjadi tugas akhirnya di jenjang S1-nya. Hal itu dilatar belakangi saat dirinya bercerita keluh kesah perjuangannya untuk mendapatkan satu judul skripsi yang tepat, cepat, dan akurat. Pada rencana awal penelitian yang diajukan bertema dana pensiun dengan bentuk field research, namun dalam teknis di lapangan ada sejumlah kendala. Sehingga akhirnya, dibatalkan dan harus berpikir ulang untuk menemukan solusi. Walaupun bukan seorang dosen dan akademisi tulen, maka mencoba memberikan saran dan pencerahan kepadanya adalah hal yang terbaik. Dalam bahasa bebas sering orang menyebut disebut “itung-itung shadakah” atau yang semisalnya.
Mencoba berijtihad dan memberikan solusi memang sudah biasa untuk dilakukan untuk rekan sesama akademisi saat itu walaupum beda jenjang pendidikan dan konsentrasi. Hingga akhirnya mendapatkan inspirasi untuk mengusulkan sebuah tema dengan mengacu pada tema awal yaitu dana pensiun. Namun kemudian harus dibuat dengan analisis maqāṣid asy-syarī‘ah”. Secara singkat, dana pensiun merupakan kajian dalam hukum perdata, sedangkan maqāṣid asy-syarī‘ah merupakan bagian kecil dari ilmu usul fikih yang sedang populer terutama dalam bidang hukum ekonomi syariah. Dengan kondisi yang demikian, maka kemudian diproseslah semua inspirasi itu dalam sebuah judul “Analisis MaqāṢid asy-Syarī‘ah Terhadap Ketentuan Umum Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 Tentang Dana Pensiun”. Undang-undang ini dipilih karena merupakan satu-satunya yang menyebutkan secara umum dalam hukum positif yang berkaitan tentang dana pensiun.
Dengan segala proses perjuangannya, memberikan saran demi kesempurnaan sebuah karya merupakan hal yang wajar dan patut untuk dilakukan. Memberikan saran tentu saja tidak juga harus secara formal, yang harus bertemu di kantor, bersepatu dan berpakaian rapi. Hal itu bisa dilakukan dengan obrolan santai saja saja, atau mungkin harus berdebat dengan kata-kata yang konyol. Tetapi prinsip sikap positif tersebut dapat terwujud dalam hal saling bertukar pendapat, atau mengecek hal-hal yang bersifat teknis semata .
Perlu diketahui bahwa bisa memberikan sebuah ide dalam sebuah akademisi merupakan sebuah anugrah yang besar dan harus di syukuri. Hal itu perlu disadari karena semua hal yang terjadi adalah kehendak Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan karena kecerdasan dari manusia semata. Selalu ada dimensi spiritul dalam berijitihad baik dalam urusan dunia maupun agama. Maka sering kali, penulis katakan “jangan sombong” di setiap prestasi kepada siapa saja yang mendapatkannya. Yakinlah bahwa yang baik itu ada yang lebih baik, dan Allah lah, Tuhan Yang Baik. Kata “jangan sombong” sangatlah melekat untuk diingat. Hanya itu ......! Selanjutnya adalah “jangan lupa”. Yang palimg penting adalah jangan lupa kepada Tuhan Yang Maha Esa, jangan lupa kepada orang tua, jangan lupa kepada guru/dosen, jangan lupa kepada orang-orang dekat, jangan lupa orang-orang yang menyanyangi dalam hidup serta kepada siapa saja orang di sekitar. Hal ini perlu dipahami bahwa hanya berkat rahmad Allah diikuti didorong keinginan luhur serta kebaikkan di sekitar manusia itulah kemudian seorang insan bisa dikatakan memiliki prestasi. Seorang manusia tentu saja tiada arti dan guna apabila tanpa manusia yang lain.
Seseorang yang meraih prestasi di atas adalah seorang mahasiswi Fakults Syariah, IAIN Surakarta. Dia lahir di Semarang tanggal 10 November 1994 diberi nama Ana Latifatuz Zahro. Panggilan akrabnya terkenal dengan Zahro. Jika penasaran dengan arti namanya ini maka bolehlah dikutip namanya dan semoga tidak salah dari makna yang diinginkan orang tuanya. Namanya yang berbau bahasa Arab, maka idealnya juga diartikan dengan bahasa Arab. “Ana” dalam bahasa Arab diartikan saya, “Latif” itu dalam bahasa arab diartikan lembut, cantik dan dalam bahasa Sansekerta kata “latif” dapat juga dijumpai dan diartikan denga baik, pemberani. Sedangkan kata Zahro indentik dengan bahasa Arab dan diartikan bunga. Secara arti bahasa namanya memang penuh doa dan harapan dari kedua orangtuanya.
Warga Dusun Ngebuk, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang ini dilahirkan dari ayah bernama Nurhadi dan ibu Qomariyah. Anak pertama dari lima bersaudara ini memiliki email yang bisa dihubungi Syifaqolbi64@gmail.com. Cemerlang dibidang nilai akademik, dia juga memiliki catatan organisai ketika masih menjadi mahasiswa. Dia aktif di beberapa organisasi seperti di BEM Fakultas Syariah, PMII, dan GENBI (Generasi Baru Indonesia) BI.
Dia berharap agar IAIN Semakin sukses dan tetap semangat untuk membangun jiwa akademisi yang lebih profesional, dengan selalu bekerjasama kepada seluruh instasi terkait untuk meningkatkan kemampuan baik secara intelektual, spiritual dan moral. Selain itu, dirinya juga berharap adanya jalinan ikatan persaudaraan antara kampus dengan para alumni, meningkatkan kemampuan dalam berdiskusi baik level lokal, nasional, dan internasional. Hal tersebut diharapkan melahirkan keilmuan Islam yang lebih terkoneksi terhadap segala aspek kehidupan, dengan sebutan “Islam Rahmatan Lil Alamin”. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan hal yang demikian dirinya juga perlunya dorongan untuk menciptakan sistem administrasi birokrasi pendidikan tinggi yang cepat, tepat, efisien, akuntabel dan transparan.
Pada akhirnya semoga segala cerita di atas bisa bermanfaat dan dapat dapat diambil hikmahnya. Bersyukurlah atas segala nikmat yang diberikan. Wisuda bukanlah akhir dan tujuan dari segala-galanya. Prosesi wisuda yang penuh bahagia adalah awal perjuangan yang akan penuh tantangan dan peluang yang bisa saja menyedihkan, menyakitkan atau berbuah kesuksesan. Ingatlah bahwa menjaga intelektualitas dengan penuh moralitas adalah hal yang tidak mudah dilakukan karena tantangan dan persaingan akan segera menghadang, serta menerjang dalam setiap bidang kehidupan. Buktikan prestasi akademik itu dengan berkarya, berkarya dan berkarya.
Happy Graduation and Success!
8 Oktober 2016











