Obrolan Akademisi: Mahasiswa Syariah IAIN Surakarta Raih yang Terbaik.

Oleh: Danu Aris Setiyanto


Banyak orang yang dikenal dalam hidup baik itu makhluk hidup atau benda tak hidup. Banyak cerita disetiap sisi kehidupan, banyak kenangan di setiap pengalaman hidup seorang insan. Namun, mungkin masih banyak manusia yang bingung akan dirinya sendiri. Bingung apa yang akan diperbuat untuk hidup, banyak orang yang tidak paham arti sebuah kehidupan. Bahkan banyak manusia yang merasa dirinya tidak berguna untuk orang lain, bahkan tak jarang manusia mengakhiri hidupnya karena dia sudah bosan dan tidak berguna hidup di dunia.

Di bawah ini mungkin hanya sepenggal kisah yang pernah ada dalam hidup. Tanpa mengabaikan catatan hidup yang lain, maka perkenankanlah tulisan ini adalah secuil kisah seorang mahasiswa prestasi yang pernah dikenal penulis, profil pribadinya, serta harapannya ke depan untuk kampus yang dibanggakan. Harapan yang muncul dari tulisan ini adalah memberikan motivasi untuk tetap berprestasi dengan sebaik-baiknya atau tetap berkarya dengan maksimal supaya tercapai sebuah kehidupan yang lebih baik. Lebih dari itu,saling berbagi pengetahuan, pengalaman dan perjuangan hidup adalah sebuah hal yang penting untuk dilakukan, agar disetiap relung-relung jiwa manusia dipenuhi hikmah hidup dan inspirasi.

Mungkin sekitar 2 tahun lalu, perkenalan dengan seorang mahasiswa berprestasi ini berlangsung secara tidak langsung dan berjalan begitu saja. Perkenalan itu adalah mengenal orang yang sekarang menjadi mahasiswa terbaik pada acara wisuda periode ke-33 IAIN Surakarta, 8 Oktober 2016. Saat itu tidak terbayangkan bahwa gadis berparas mungil ini adalah seorang yang sekarang di puncak prestasi secara nilai akademisi dengan IPK 3,75 dengan masa studi 3 tahun 10 bulan. Bukan hanya terbaik di tingkat Fakultas, namun mencapai yang terbaik setingkat kampus almamaternya itu.

Secara singkat perkenalan itu mungkin sudah ditadirkan untuk melahirkan inspirasi sebuah karya yang menjadi tugas akhirnya di jenjang S1-nya. Hal itu dilatar belakangi saat dirinya bercerita keluh kesah perjuangannya untuk mendapatkan satu judul skripsi yang tepat, cepat, dan akurat. Pada rencana awal penelitian yang diajukan bertema dana pensiun dengan bentuk field research, namun dalam teknis di lapangan ada sejumlah kendala. Sehingga akhirnya, dibatalkan dan harus berpikir ulang untuk menemukan solusi. Walaupun bukan seorang dosen dan akademisi tulen, maka mencoba memberikan saran dan pencerahan kepadanya adalah hal yang terbaik. Dalam bahasa bebas sering orang menyebut disebut “itung-itung shadakah” atau yang semisalnya.

Mencoba berijtihad dan memberikan solusi memang sudah biasa untuk dilakukan untuk rekan sesama akademisi saat itu walaupum beda jenjang pendidikan dan konsentrasi. Hingga akhirnya mendapatkan inspirasi untuk mengusulkan sebuah tema dengan mengacu pada tema awal yaitu dana pensiun. Namun kemudian harus dibuat dengan analisis maqāṣid asy-syarī‘ah”. Secara singkat, dana pensiun merupakan kajian dalam hukum perdata, sedangkan maqāṣid asy-syarī‘ah merupakan bagian kecil dari ilmu usul fikih yang sedang populer terutama dalam bidang hukum ekonomi syariah. Dengan kondisi yang demikian, maka kemudian diproseslah semua inspirasi itu dalam sebuah judul “Analisis MaqāṢid asy-Syarī‘ah Terhadap Ketentuan Umum Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 Tentang Dana Pensiun”. Undang-undang ini dipilih karena merupakan satu-satunya yang menyebutkan secara umum dalam hukum positif yang berkaitan tentang dana pensiun. 

Dengan segala proses perjuangannya, memberikan saran demi kesempurnaan sebuah karya merupakan hal yang wajar dan patut untuk dilakukan. Memberikan saran tentu saja tidak juga harus secara formal, yang harus bertemu di kantor, bersepatu dan berpakaian rapi. Hal itu bisa dilakukan dengan obrolan santai saja saja, atau mungkin harus berdebat dengan kata-kata yang konyol. Tetapi prinsip sikap positif tersebut dapat terwujud dalam hal saling bertukar pendapat, atau mengecek hal-hal yang bersifat teknis semata . 

Perlu diketahui bahwa bisa memberikan sebuah ide dalam sebuah akademisi merupakan sebuah anugrah yang besar dan harus di syukuri. Hal itu perlu disadari karena semua hal yang terjadi adalah kehendak Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan karena kecerdasan dari manusia semata. Selalu ada dimensi spiritul dalam berijitihad baik dalam urusan dunia maupun agama. Maka sering kali, penulis katakan “jangan sombong” di setiap prestasi kepada siapa saja yang mendapatkannya. Yakinlah bahwa yang baik itu ada yang lebih baik, dan Allah lah, Tuhan Yang Baik. Kata “jangan sombong” sangatlah melekat untuk diingat. Hanya itu ......! Selanjutnya adalah “jangan lupa”. Yang palimg penting adalah jangan lupa kepada Tuhan Yang Maha Esa, jangan lupa kepada orang tua, jangan lupa kepada guru/dosen, jangan lupa kepada orang-orang dekat, jangan lupa orang-orang yang menyanyangi dalam hidup serta kepada siapa saja orang di sekitar. Hal ini perlu dipahami bahwa hanya berkat rahmad Allah diikuti didorong keinginan luhur serta kebaikkan di sekitar manusia itulah kemudian seorang insan bisa dikatakan memiliki prestasi. Seorang manusia tentu saja tiada arti dan guna apabila tanpa manusia yang lain. 

Seseorang yang meraih prestasi di atas adalah seorang mahasiswi Fakults Syariah, IAIN Surakarta. Dia lahir di Semarang tanggal 10 November 1994 diberi nama Ana Latifatuz Zahro. Panggilan akrabnya terkenal dengan Zahro. Jika penasaran dengan arti namanya ini maka bolehlah dikutip namanya dan semoga tidak salah dari makna yang diinginkan orang tuanya. Namanya yang berbau bahasa Arab, maka idealnya juga diartikan dengan bahasa Arab. “Ana” dalam bahasa Arab diartikan saya, “Latif” itu dalam bahasa arab diartikan lembut, cantik dan dalam bahasa Sansekerta kata “latif” dapat juga dijumpai dan diartikan denga baik, pemberani. Sedangkan kata Zahro indentik dengan bahasa Arab dan diartikan bunga. Secara arti bahasa namanya memang penuh doa dan harapan dari kedua orangtuanya. 

Warga Dusun Ngebuk, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang ini dilahirkan dari ayah bernama Nurhadi dan ibu Qomariyah. Anak pertama dari lima bersaudara ini memiliki email yang bisa dihubungi Syifaqolbi64@gmail.com. Cemerlang dibidang nilai akademik, dia juga memiliki catatan organisai ketika masih menjadi mahasiswa. Dia aktif di beberapa organisasi seperti di BEM Fakultas Syariah, PMII, dan GENBI (Generasi Baru Indonesia) BI. 

Dia berharap agar IAIN Semakin sukses dan tetap semangat untuk membangun jiwa akademisi yang lebih profesional, dengan selalu bekerjasama kepada seluruh instasi terkait untuk meningkatkan kemampuan baik secara intelektual, spiritual dan moral. Selain itu, dirinya juga berharap adanya jalinan ikatan persaudaraan antara kampus dengan para alumni, meningkatkan kemampuan dalam berdiskusi baik level lokal, nasional, dan internasional. Hal tersebut diharapkan melahirkan keilmuan Islam yang lebih terkoneksi terhadap segala aspek kehidupan, dengan sebutan “Islam Rahmatan Lil Alamin”. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan hal yang demikian dirinya juga perlunya dorongan untuk menciptakan sistem administrasi birokrasi pendidikan tinggi yang cepat, tepat, efisien, akuntabel dan transparan.

Pada akhirnya semoga segala cerita di atas bisa bermanfaat dan dapat dapat diambil hikmahnya. Bersyukurlah atas segala nikmat yang diberikan. Wisuda bukanlah akhir dan tujuan dari segala-galanya. Prosesi wisuda yang penuh bahagia adalah awal perjuangan yang akan penuh tantangan dan peluang yang bisa saja menyedihkan, menyakitkan atau berbuah kesuksesan. Ingatlah bahwa menjaga intelektualitas dengan penuh moralitas adalah hal yang tidak mudah dilakukan karena tantangan dan persaingan akan segera menghadang, serta menerjang dalam setiap bidang kehidupan. Buktikan prestasi akademik itu dengan berkarya, berkarya dan berkarya.

Happy Graduation and Success!
8 Oktober 2016

Awal Tahun Hijriah: Mengikis Sedimentasi Agama dan Budaya


Awal Tahun Hijriah: Mengikis Sedimentasi Agama dan Budaya
Oleh: Danu Aris Setiyanto

1 Muharram disebut juga dalam istilah orang Jawa dengan 1 Syuro. Saat inilah juga disebut sebagai pergantian tahun dalam sistem kalender Islam atau kalender Jawa.

Peringatan pergantian tahun baru Hijriyah ini juga tidak kalah dengan tahun baru Masehi. Pada saat tahun baru Masehi, manusia di dunia hampir seluruhnya disibukkan dengan bunyi terompet dan kembang api di seluruh tempat terutama di daerah perkotaan. Mereka juga menyempatkan diri berkumpul bersama keluarga dan orang-orang terdekat untuk berkumpul bersama dan bergadang mengelilingi kota atau santai bersama keluarga.

Saat tahun baru Hijriyah, agak sedikit berbeda terutama di wilayah Jawa. Sebagian masyarakat jawa memperingati hari pergantian tahun dengan bermacam-macam budaya. Pengaruh aliran animisme dan dinamisme serta pengaruh kerajaan Islam sangat bisa diamati diindikasikan sebagai pemicu berbagai macam tradisi budaya jawa ini. Kegiatan tersebut misalnya Sampah Mubeng di Yogyakarta, Kirab Pusaka di Solo, Tradisi Bubur di Jawa Barat dan lain-lain. Jika diperhatikan di luar Jawa pun juga ada acara untuk 1 Syuro, misalnya tradisi Tabir di Bengkulu, dan tradisi Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat.


Ada 2 hal untuk memahami terkait tradisi memperingati 1 Muharram tiap tahun ini, yaitu secara budaya dan secara agama. Budaya merupakan hasil cipta, dan akal manusia. Budaya juga mirip dengan arti tradisi, karena budaya bisa diartikan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah.

Dalam Islam budaya atau adat dapat diterima secara agama apabila memenuhi beberapa persyaratan, yaitu
1. Perbuatan yang dilakukan logis dan relevan dengan akal sehat.
2. Perbuatan, perkataan yang dilakukan selalu berulang-ulang, boleh dikatakan sudah mendarah daging pada perilaku masyarakat.
3. Tidak bertentangan dengan ketentuan nash, baik al Qur'an maupun as-Sunnah.
4. Tidak mendatangkan kemudaratan serta sejalan dengan jiwa dan akal yang sejahtera.

Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim hendaknya memiliki bangunan aqidah yang kokoh sehingga memiliki filter atau tameng yang kokoh terhadap segala hal yang berkaitan dengan peringatan tahun baru Islam di beberapa daerah. Hal ini supaya kemurnian tauhid tidak hilang dalam diri seseorang hanya karena ingin sebuah trend budaya.

Budaya memang perlu untuk dilestarikan sebagai masyarakat Indonesia yang penuh dengan keanekaragaman budaya. Namun bukan berarti mengorbankan aqidah yang merupakan janji kepada Sang Illahi, maka budaya dapat dilestarikan dengan 4 syarat di atas.

Semoga dengan tahun baru Hijriyah 1438 H, Allah tetap memberikan hidayah untuk tetap istiqomah sesuai al Quran dan as-Sunnah dan dijauhkan dari segala amalan bid'ah. Dengan penuh harapan, semoga hidup menjadi lebih bermanfaat dan berkah, diberikan keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, serta diberikan harta yang melimpah untuk jihad fi sabilillah.

Amiiin.

Catatan 1 Muharram 1438 H
Surakarta, 3 Oktober 2016

Mengenal Manusia: Apa, Darimana? (Pendekatan Al- Qur'an)

Oleh: Danu Aris Setiyanto


Dalam ilmu biologi ada sistem klasifikasi makhluk hidup. Makhluk hidup terdiri dari tiga jenis, yaitu: manusia, hewan, dan tumbuhan. Rincian klasifikasi makhluk hidup berikutnya ditemukan oleh Carolus Linnaeus. Dia terkenal dengan taksonomi Linnaeus, yaitu sistem klasifikasi ilmiah makhluk hidup yang kini digunakan secara luas dalam biologi. Kita biasa melihat tiga jenis tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Namun jarang terdapat pikiran hakikat dari ketiga-ketiganya, atau bahkan tidak pernah berfikir filosofinya salah satu dari ketiga tersebut, misalnya manusia.

Pertanyaan-pertanyaan ini diharapkan dapat membantu manusia sadar dan bisa mencapai tingkat kesadaran yang tinggi sesuai prinsip agama Islam/ al Qur'an.

"Apa itu manusia?"
"Dari mana manusia?"
"Untuk apa manusia?"
"Mau kemana manusia?" dll.

Manusia itu secara singkat adalah gabungan fisik dan nonfisik, material dan nonmateriil. Manusia memiliki arti secara biologi, rohani, dan antropologi. Dalam al Quran manusia itu setidaknya memiliki fisik dan rohani atau lahir dan batin. Jika ditelaah dalam surat al-Baqarah ayat 155 yang artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan."

Maka jelas ada fisik dan nonfisik yang akan diuji oleh Allah/ Tuhan. Ketakutan merupakan perwakilan dari sifat batin manusia itu sendiri. Bahkan disebutkan secara jelas bahwa manusia diuji dengan kekurangan jiwa. Sedangkan yang lain adalah cobaan fisik manusia, seperti kelaparan, kekurangan harta, buah-buahan. Maka jelas, Islam mengatakan bahwa manusia itu terdiri dari jiwa dan raga. Bahkan Islam telah mengingatkan jika manusia tidak kehidupan jiwa/ rohani dapat dikatakan seimbang dengan hewan bahkan lebih rendah dari itu. Sebagaimana dalam surat Al A'raf: 72.

Untuk menjawab hakikat manusia secara jelas, maka bisa dikutip dari pendapat seorang Imam, yaitu Ja’far As-Shodiq. Ketika dia ditanya: "Lebih mulia mana manusia atau malaikat? Kemudian dia menjawab:
Allah memberikan akal tanpa syahwat kepada malaikat. Dan memberi syahwat tanpa akal kepada binatang. Dan dia memberi akal dan syahwat kepada manusia. Maka, siapa yang akalnya mengalahkan syahwatnya maka dia lebih mulia dari malaikat. Dan siapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya maka dia lebih sesat dari binatang.”

Maka dengan jelas bisa dimaknai bahwa manusia adalah jasad secara fisik, dan ruh/ jiwa yang abstrak tidak bisa dilihat secara langsung.

Secara biologis, nama latin "manusia" adalah Homogen Sapiens (Linnaeus, 1758). Dalam klasifikasi ilmiah termasuk dalam: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mamalia; Ordo: Primata; Famili: Hominidae Upafamili: Homininae; Bangsa: Hominini; Genus: Homo; Spesies: H. sapiens. Manusia yang tergolong mamalia ini tergolong memiliki kemampuan otak yang tinggi dibandingkan dengan makhluk lain.

Secara antropologi, manusia dinilai memiliki kemampuan berbahasa, berorganisasi dalam berbagai kelompok yang majemuk sehingga menimbulkan berbagai budaya di dunia. Selain itu manusia juga berperan dalam perkembangan teknologi.

Menjawab Asal Manusia, ada sebuah teori yang terkenal hingga sekarang, yaitu teori Evolusi. Teori evolusi dicetuskan oleh Charles Robert Darwin (1802-1882). Teori ini menyatakan bahwa: " Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan". Darwin berpendapat bahwa manusia berasal dari makhluk sejenis kera yang berkembang menjadi hewan kera tingkat tinggi dan akhirnya menjadi manusia. Pendapatnya ini didasarkan kepada penemuannya yang mirip manusia, yaitu Austropithecus yang umurnya 350 ribu- 1 juta tahun. Dia mengamati perkembangan pada volume otak yang berkembang. Namun teori ini tidak menjelaskan volume otak yang tidak berkembang dalam manusia modern dari yang disebut manusia kera (Neandebtral). Sehingga kemudian teori ini ditinggalkan karena tidak sesuain dengan fakta.

Dalam Islam, manusia awal berasal dari Adam Allaihis Salam yang diciptakan dari tanah. Hal ini bisa didapatkan dalam al Quran as Sajdah: 7 dan al Hijr: 26. Sebagai orang Islam, al Quran adalah referensi yang tidak bisa terbantahkan secara keimanan. Sehingga apapun nama teorinya apabila tidak sesuai dengan prinsip Islam seharusnya diabaikan dan ditinggalkan.

Manusia itu mulia, maka hendaknya menjaga kemuliaan itu.

26 September 2016

Korupsi itu Budaya atau Dibudayakan?

Korupsi itu Budaya atau Dibudayakan?
Oleh: Danu Aris Setiyanto

Suatu hari dilakukan observasi ke sebuah lembaga resmi yang menangani pajak kendaraan bermotor namun bukan wilayah asal asli penulis dan masih wilayah Soloraya.

Ketika belum masuk ruang utama pembayaran, sudah harus membayar distribusi sukarela yang diwajibkan dari salah satu instansi yang bergerak di bidang kesehatan. Nilai rupiah yang dibayarkan sangat kecil sebenarnya, namun jika dibandingkan dengan daerah lain retribusi ini tidak wajib bahkan tidak ada.


Setelah masuk di ruang utama, maka ditaruhlah berkas yang untuk pajak itu. Entah ada apa sebenarnya pada bagian ini. Tapi yang jelas ada tambahan berkas untuk administrasi esek-esek ataukah cek nomor mesin kendaraan bermotor. Tapi lama juga rasanya untuk menunggu proses berikutnya. Pada saat ambil berkas itu petugas sudah meminta uang Rp 20.000,-. Saat itu ya diproses saja dan dibayarkanlah uang sejumlah itu. Sesaat kemudian, keluar dari gedung utama kemudian bertemu dengan petugas pengecek nomor kendaraan. Pada saat sudah selesai, petugas pun kemudian juga meminta sejumlah biaya yang kecil. Namun intinya disini para pembayar pajak kemudian tetap memberikan uang itu.

Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan ke suatu ruang tertentu seperti ruang untuk validasi cek nomor. Saat itu lagi-lagi ada tarif biaya Rp 10.000. Pada tahapan terakhir kemudian kembali ke ruang utama dan melaksanakan transaksi pajak dengan sewajarnya.

Sebenarnya keinginan bertanya biaya-biaya yang non tertulis resmi itu untuk apa dan siapa yang punya ide untuk itu sudah kuat dalam otak. Setidaknya ada satu hal yang perlu dijawab dan urgen yaitu ada tidaknya aturan untuk meminta sejumlah uang itu dengan berbagai alasan terlepas besar atau kecil biaya tersebut. Kalau itu disebut semacam korupsi, gratifikasi, suap, dan semisalnya apakah hal itu bisa termasuk di dalamnya? Yang lebih ingin diketahui itu adalah apakah itu yang disebut budaya dari masyarakat dan petugas di dalamnya.

Di tengah pemerintah semangat memberantas korupsi tapi justru masyarakat sendiri menciptakan budaya korupsi. Pertanyaan berikutnya, apakah peristiwa ini terjadi di seluruh Indonesia? Jika iya maka sangatlah berbahaya karena secara alam bawah sadar masyarakat terbiasa sudah mendukung untuk korupsi.


Keinginan akan melapor hal ini sebernarnya ada, hanya saja tak mungkin bisa dilakukan kalau tidak ada bukti bahwa itu adalah tindakan korupsi dan atau semisalnya. Setidaknya, ada sebuah biaya resmi yang tertulis secara eksplisit dibeberapa tempat yang mengidentifikasi biaya yang resmi dan sah secara hukum.

Ada spanduk "Jangan gunakan jasa Calo" Tulisan ini sepertinya hanya seperti perhiasan yang tidak jelas fungsi. Karena bagaimana tidak demikian, karena secara fakta di bawah/ di sekitar spanduk tulisan ini banyak calo-calo yang menawarkan jasanya.

Hidup dengan kejujuran itu kadang memang sulit. Padahal lingkungan itu merupakan salah satu di lingkungan penegak hukum. Melakukan kejujuran di negeri ini terkadang malah dikatakan " sok bersih, sok suci, sok jujur, sok ...". Bahkan bisa dikatakan bahwa kejujuran dianggap sesuatu yang dibenci atau malah bisa saja orang jujur bisa dipenjara. Mungkin aneh, tapi entah hal itu ada atau tidak.

Padahal itu hanya dalam satu instansi belum observasi kepada instansi lain. Oleh sebab itu, maka diperlukan sosialisasi kepada masyarakat tentang edukasi untuk transaksi kepada instansi publik seperti pajak agar tidak ada tindakan yang bertentangan dengan hukum.

Terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan isi tulisan di atas, maka perlu ditegaskan bahwa masyarakat jangan mendorong berbudaya korupsi. Itu sangat tidak etis. Lembaga pemerintah harus menciptakan budaya anti korupsi bukan sebaliknya. Sistem akuntabel, transparan, dan bermatabat dalam sebuah instansi pemerintah tentu merupakan kunci kepercayaan publik terhadap sistem pemerintahan yang bebas dari KKN.

Ini tulisan merupakan sebuah inspirasi untuk kebaikan bersama. Semoga kedepannya, Indonesia memiliki sistem yang lebih baik, bersih dari korupsi.

Korupsi adalah Kejahatan yang Menghancurkan Kehidupan karena ketidakjujuran.

Mari berbagi Inspirasi untuk Hidup yang Lebih Berarti!


20 September 2016

Mengenal Perbedaan Syiah dan Sunni: Imamah dan Otoritas Agama

Mengenal Perbedaan Syiah dan Sunni: Imamah dan Otoritas Agama
Oleh: Danu Aris Setiyanto


Beberapa hari ini beberapa media sosial memberikan informasi bahwa kelompok Syiah melakukan haji di Karbala, Irak. Di Indonesia sendiri ada televisi yang memberitakan hal tersebut. Pemberitaan ini menimbulkan pro dan kontra. Dikatakan pro karena membeberkan Syiah sehingga sebagai pembelajaran aqidah, dianggap kontra karena ada makna mengenalkan ajaran Syiah di Indonesia yang dicap sesat.

Untuk menulis singkat tentang Syiah haruslah dengan penuh kehati-hatian. Tulisan ini hanya untuk mengenal Syiah secara singkat. Mengenal bukan berarti membenarkan atau bahkan mengikuti, tetapi justru harus dimaknai sebagai benteng keimanan.

Hal ini karena hakikat tulisan ini adalah berbagi ilmu yang bermanfaat. Secara praktis, hal ini bertujuan untuk tidak mudah mengikuti segala bujuk raju orang yang akan mengajak kepada aliran Syiah ini.

Dalam Islam ada dua kelompok yang sangat sensitif dan kontroversial hingga sekarang, yaitu kelompok Sunni dan Syiah. Kelompok Syiah merupakan salah satu kelompok minoritas yang pernah berbeda pendapat dengan kelompok Sunni. Namun kelompok ini, merupakan kelompok penting dan masih bertahan hingga sekarang. Beberapa referensi disebutkan bahwa Syiah saat ini berpusat di Iran.

Syiah juga disebut para pendukung Ali. Dan inilah yang pembeda yang fundamental dengan kelompok lain, yaitu penekanan pentingnya seorang Imam (Pemimpin agama dan politik).

Kemuncullan Syiah dapat dilacak dari ketidaksepakatan terhadap pemilihan khalifah pertama setelah Nabi Muhammad pada tahun 632 M, Abu Bakar as- Sidiq. Bukan hanya tidak mengakui Abu Bakar, namun Syiah juga tidak menolak mengakui tiga khalifah sebelum Ali.
Hal ini karena berdasarkan keyakinan Syiah bahwa imam yang dapat diterima harus memiliki hak sah menjadi khalifah. Dalam hal ini, Syiah menghendaki imam mereka hanyalah dari keturunan Ali dan Fatimah (satu-satunya puteri Nabi) yang memiliki kualitas akhlak, pribadi, kesalehan, kehormatan, dan mampu berdaulat mempertahankan imam.

Titik perbedaan juga muncul karena imam yang adil menurut Syiah adalah dari seorang ahli bait (keluarga nabi). Sedangkan Sunni tidak demikian pendapatnya. Imam dalam kelompok Syiah dianggap Manusia Sempurna ( al Insan al-Kamil) yang berkedudukan sebagai penghubung antara umat manusia dan Tuhan.

Imam dalam Syiah adalah prinsip logika dan spiritual yang misterius yang mengikat keseluruhan alam semesta. Oleh karena itu, imam dalam Syiah memiliki otoritas tertinggi baik dalam hukum maupun agama. Bahkan dianggap dia tidak bisa dianggap salah dalam seluruh aspek hidupnya, baik dimuka umum maupun pribadi.


Dalam Syiah, Imam adalah sumber doktrin agama, penerjemah Tuhan dan tidak bisa salah dan tidak mungkin didelegasikan.

Sebuah referensi, mengatakan bahwa Syiah juga menerima Al-Qur'an dan Sunnah. Namun memiliki gaya bacaan (qiraat) dan susunan surat-surat Al-Qur'an yang berbeda. Syiah menolak kaum Sunni dalam masalah otoritas penafsiran Al-Qur'an dan dalam periwayatan Sunnah. Syiah tidak percaya pada riwayat sunnah yang tidak diriwayatkan atau tidak diketahui oleh salah satu seorang dari kalangan imam mereka. Implikasi dari sifat melekat dari Imamiyah yang diyakini Syiah ini adalah Syiah tidak menerima ijma dan ijtihad dalam pengertian konsep Sunni.

Begitulah beberapa point penting pemikiran Syiah sekaligus perbedaan dengan pemikiran Sunni. Semoga bisa memberikan pencerahan intelektual sebagai orang muslim yang berjalan di atas keimanan dan jalan yang benar.

Berbagi Inspirasi Islam
Surakarta, 14 September 2016

Respon Publik Terhadap Dunia Hukum Pidana Indonesia: Jessica Meracun Mirna?

Respon Publik Terhadap Dunia Hukum Pidana Indonesia: Jessica Meracun Mirna?
Oleh: Danu Aris Setiyanto


Siapakah yang tidak kenal dengan Jessica, terdakwa kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin. Jessica seakan artis yang dadakan terkenal karena proses hukum yang sedang dijalaninya. Hal ini terbukti sempat adanya kopi lokal yang bermerek Jessica. Namun akhirnya kopi tersebut ditarik dari peredaran atau tidak dijual dengan merk yang sama oleh pemiliknya.

Kasus persidangan ini setidaknya selalu ditayangkan oleh dua televisi nasional secara utuh. Padahal setiap sidang, durasi yang dibutuhkan hingga mencapai 12 jam. Bahkan pernah tercatat sidang mencapai atau mendekati waktu maksimal yaitu pukul 24:00 WIB.

Kasus ini bermula saat Mirna bertemu dua temannya, Jessica Kumala Wongso dan Hani pada tanggal 6 Januari 2016 di Kafe Olivier, Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta. Usai menegak kopi, Mirna kemudian merasakan yang tidak enak dengan mengatakan "It's awful, it's so bad". Hingga kemudian dia mengibas-ngibaskan tangan di depan mulutnya, hingga bersandar di kursi, dan kolaps. Pada akhirnya mengeluarkan buih di mulutnya dan menegang. Walaupun sempat diberikan pertolongan di klinik terdekat, namun nyawa Mirna tidak dapat ditolong. Selanjutnya, wanita berusia 27 tahun itu dinyatakan meninggal dunia karena diduga keracunan zat senyawa sianida. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh ahli forensik Rumah Sakit Tingkat I Bhayangkara Kramat Jati, dr. Slamet Purnomo saat persidangan.

Kematian Mirna yang dianggap tidak wajar dan diduga karena diracun sianida di kafe Olivier ini telah mengundang perhatian publik di Indonesia. Padahal Mirna bukanlah siapa-siapa di negara ini, bukanlah anak pejabat negara, anak keturunan artis, politis negara dan lain-lain. Intinya ya warga negara biasa.

Tetapi perlu diketahui bahwa kasus pembunuhan menggunakan racun merupakan pembunuhan yang tidak mudah untuk diselidiki. Beberapa kali tim penyidik harus melengkapi berkas berita acara pemeriksaan agar lengkap untuk disidangkan. Setidaknya tercatat sekitar empat kali, penyidik mondar mandir ke Jaksaan. Bahkan masa penahanan Jessika yang saat itu sebagai tersangka pun harus diperpanjang.

Hal-hal inilah yang merupakan bagian penyebab banyak media tertarik mengekspos sebagai pemberitaan bahkan disebut berita khusus. Dalam hal ini, perjalanan kasus Jessica selalu menjadi sorotan media masa baik elektronik maupun cetak.

Hingga akhirnya persidangan Jessica yang panjang dianggap sebagian masyarakat berkomentar bagaikan film drama yang berdurasi panjang. Tidak terasa, 15 September 2016 persidangan tersebut adalah yang ke-21 kalinya.

Banyak komentar akan semua hal di atas dari orang awam hingga orang elit di media sosial. Sebagai orang yang taat hukum dan mengerti dalam hal hukum. Maka pada dasarnya, tidak boleh membicarakan apa yang menjadi materi dalam persidangan. Apalagi berspekulasi bahwa si A atau B salah sebelum akhirnya ada keputusan dari pengadilan dan telah berkekuatan tetap. Sangat disayangkan, masyarakat yang beragam tingkat pengetahuan tentang hukum menyebabkan adanya opini masyarakat yang kadang liar.

Sebagian masyarakat ada yang bosan dengan proses yang panjang. Tapi pada sisi lain, haruslah berpikir luas, jangan berpikir sempit. Ini dunia hukum. Jika tidak tau dunia hukum mending diam. Itu lebih aman dalam dunia hukum di Indonesia.

Ini adalah kasus langka dalam dunia hukum , belum tentu seumur hidup ada kasus seperti ini untuk yang kedua kalinya. Kalau hanya dibilang pengalihan isu itu analisa yang tidak tepat tentang berbagai hal buruk di negeri ini, seperti kasus korupsi, kebijakan tax amnesty, kasus narkoba, dan sebagainya.

Kasus ini juga untuk belajar bagi berbagai kalangan baik dari calon hakim, calon jaksa, pengacara, dokter, ahli it, toksikologi dll. Sehingga kasus ini sangat menarik jika mau digunakan untuk belajar. Adapun terkait dengan sidang lama dan hingga 20 kali lebih merupakan hal yang wajar karena banyaknya saksi ahli yg harus diperiksa. Hal ini pun bisa dimaklumi karena tidak mudah untuk menemukan siapa pelaku pemberi racun. Apalagi tidak ada pelaku kejahatan yang tak kunjung mengakui perbuatan meracun tersebut.


Pengungkapan kasus dengan racun sangatlah dibutuhkan kerja keras untuk mengungkapkan kejahatan ini, baik dari pihak kepolisian, jaksa, dan hakim. Beberapa pihak dari berbagai kalangan keilmuan juga dihadirkan sebagai saksi ahli dalam persidangan sebagaimana penjelasan di atas seperti ahli toksikologi, ahli hukum pidana, ahli dokter forensik, ahli Informasi dan teknologi dan sebagainya. Bukan hanya ngomong pengalihan isu, itu sangat tidak etis secara orang yang taat kepada hukum.

Maka marilah bersikap bijak untuk menghormati setiap proses hukum yang ada NKRI apapun itu kasusnya. Yakin bahwa sudah ada proses hukum yang sistematis. Apabila dalam tindakan penegakan hukum itu masih ada kekurangan, maka hal itu sebaiknya segera diperbaiki baik sistem dan praktiknya segera. Namun walaupun demikian, memutuskan atas opini pribadi sebelum adanya putusan pengadilan resmi dalam kasus ini tidak bisa dibenarkan.

Semoga kebenaran dapat terang benderang dan keadilan dapat ditegakkan.

Tak ada Kemakmuran sebuah Negeri tanpa ada rasa Keadilan.


Inspirasi Hukum Indonesia
17 September 2016

SELAMAT TINGGAL RAMADAN! (Reaktualisasi Makna Interaksi Masyarakat Indonesia)


Bagi umat Islam, Ramadan adalah bulan yang istimewa baik dari keutamaan ataupun dari segi rohani ataupun dari sisi fisik. Dari segi rohani, jelas bahwa di dalamnya terdapat banyak keutamaan yang dijanjikan oleh Tuhan dan utusan-Nya. Dari segi fisik, banyak hal yang bisa diamati, didengar, dan dirasakan akan adanya perubahan pada diri setiap manusia atau kegiatan sosial, kegiatan ekonomi, kegiatan keberagamaan, bahkan kegiatan teknologi.

Tulisan ini tidak akan menuliskan banyak tentang variasi peningkatan ibadah secara rohani dalam bulan Ramadan. Namun lebih menuliskan sejumlah permasalahan atau fakta sosial yang ada dalam masyarakat selain kegiatan ibadah secara rinci dengan tanpa mengabaikan sejumlah dalil dari teks suci dan pesan Nabi. Sehingga tulisan ini diharapkan menjadi tulisan yang hanya bersifat sosiologis dan bukan hal yang bersifat normatif walaupun nilai-nilai keagamaan bisa saja tetap tidak bisa dipisahkan dalam tulisan ini. Tulisan ini juga diharapkan juga bahan diskusi dan menjadi sebuah evalusi beberapa pihak yang disebutkan dalam permasalahan tulisan ini.

Secara fakta, banyak hal yang terjadi saat ramdan setiap tahunnya. Jika diamati dari kegiatan sosial misalnya ada serangkaian yang meningkat baik itu yang berjumlah sedikit atau sederhana maupun yang berjumlah banyak. Dalam hal ini misalnya adalah kegiatan sosial seperti shadaqah, infaq, dan zakat. Jika bisa dinamakan dengan istilah lain maka kegiatan itu adalah kegiatan untuk saling berbagi dari yang kaya dengan si miskin, dari yang mampu kepada orang tidak mampu, orang yang berkecukupan kepada orang yang kekurangan. Bagi umat Islam kegiatan berbagi baik itu shadaqah, infaq, dan zakat adalah hal yang idealnya terus dilakukan oleh orang-orang yang mampu mengeluarkannya. Kegiatan sosial lain yang menjadi fenomenal adalah adanya pasar murah yang diselenggarakan oleh beberapa instansi pemerintah atau lembaga atau organisasi swasta, kegiatan ini sangat membantu masyarakat yang mereka tidak mampu karena mereka dapat membeli barang yang diinginkan dengan harga yang terjangkau. Sejumlah aktifitas lain,yaitu pembagian sembako secara gratis, pemberian uang tunai dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan sosial seperti tersebut di atas sangat disambut oleh sebagian besar masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Namun semua kegiatan sosial dengan niat kebaikan tidak bisa dipungkungkiri dengan adanya kekurangan di dalamnya. Misalnya, pembagian sembako dan uang tunai dengan sistem antri bisa dikatakan secara teknis kurang tepat. Hal ini disebabkan karena masih ada saja korban yang mengalami kecelakaan saat mengantri. Sebagian mereka ada yang pingsan, sesak nafas, dan bisa saja meninggal dunia karena lamanya berdiri dan antrian yang penuh. Dengan demikian, kegiatan sosial yang kurang efektif bahkan malah bisa menimbulkan korban hendaknya disikapi oleh berbagai pihak untuk melakukan evaluasi dan sejumlah perbaikan teknis saat pembagiannya. Evaluasi ini bertujuan agar dikemudian hari tidak ada kejadian yang negatif seperti disebutkan di atas walaupun kegiatan itu diniatkan untuk kebaikkan.


Dalam bidang ekonomi, selama ramadan berlangsung khususnya di Indonesia banyak peristiwa penting yang terjadi setiap tahunnya. Jika menyebutkan bulan Ramadan maka identik dengan “bulan dimana harga pokok akan mengalami kenaikan”. Kenaikkan harga bisa saja terjadi saat akan bulan Ramadan, saat bulan Ramadan hingg akhir bulan Ramadan. Maka tidak heran jika pemerintah melakukan intruksi dan terus memberikan pengawasan dan melakukan beberapa upaya agar semua bahan pokok tetap stabil. Kenaikkan harga merupakan implikasi adanya kenaikkan permintaan sejumlah kebutuhan masyarakat dari saat menjelang bulan Ramadan. Kenaikkan kebutuhan saat bulan Ramadan adalah hal yang tidak bisa dipungkiri. Fakta menunjukkan mulai menjelang Ramadan hingga akhir Ramadan beberapa tempat belanja baik pasar tradisional, toko kelontong, minimarket, hingga pasar modern selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat dengan berbagai keperluannya.

Aset perputaran nilai ekonomi yang berjalan saat Ramadan sangatlah besar. Hal ini sudah seakan sebuah tradisi khususnya di Indonesia, misalnya membeli kebutuhan pokok saat Ramadan dan membeli baju baru saat menjelang Idul Fitri. Semua itu diyakini sebagai bentuk kebahagiaan sosial yang menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Fakta yang demikian mendorong berbagai tempat penjualan melakukan marketing besar-besaran dengan menawarkan sejumlah diskon yang bervariasi untuk menarik para calon konsumen.

Sebuah catatan penting lain adalah adanya mobilisasi penduduk saat ada arus mudik dan arus lebaran saat lebaran.Kegiatan ini merupakan kegiatan yang meliputi berbagai aspek seperti aspek kebudayaan, agama, sosial, keamanan dan berbagai aspek lain. Arus mudik dinilai sebuah budaya masyarakat Indonesia karena kegiatan mudik selalu ada dan rutin dilakukan oleh orang-orang Indonesia yang melakukan perantauan atau melakukan kegiatan ditempat yang jauh dari keluarga ataupun kegiatan lain yang jauh dari keluarga yang biasanya dilakukan di kota kemudian mereka melakukan kegiatan “pulang kampung” atau ke desa atau tempat asal usul mereka untuk bertemu orang tua atau saudara-saudara yang berada di tempat asal dengan niatan untuk kembali saling menyapa dan berbagi saat hari kemenangan.

Mudik sebenarnya adalah kegiatan sosial yang apabila dikaitkan dengan agama haruslah dimaknai sebagai wujud untuk meningkatkan silahturahmi dan meningkatkan tali persaudaraan. Perwujudan tersebut akan terasa lebih bermakna apabila dalam diri seorang muslim yang sebelumya telah lama tidak bertemu dengan orang tua atau saudaranya. Sungguh dalam Islam hal ini telah diajarkan dan dicontohkan oleh seorang Nabi di akhir Zaman. Namun, niat yang mulia ini kadang tergeser dengan dicampuri dengan niat jelek lain seperti adanya keinginan untuk pamer atau riya terhadap segala kesuksesannya saat merantau misalnya. Hal ini misalnya saja dengan merasa bangga dengan menampakan dan memamerkan sejumlah materi yang dimilikinya baik itu baju, mobil, perhiasan, kecantikan, anak, jabatan dan lain sebagainya. Tentu saja hal ini sangatlah disayangkan apabila terjadi diantara umat Islam. Oleh sebab itu, dengan adanya kelebihan materi seperti harta benda yang dimiliki oleh seorang muslim hendaknya dapat digunakan untuk sarana tetap bersedakah saat Ramadan telah usai. Selain itu, perlu adanya kesadaran bahwa apa materi yang dimiliki hanyalah sebuah amanah yang diberikan Tuhan. Hal inilah salah satu wujud insan yang bertakwa kepada Yang Maha Kuasa.

Bukan hanya itu saja, mudik sendiri memiliki catatan mobilitas yang luar biasa baik itu vertikal maupun horisontal. Mobilitas horisontal ditandai dengan adanya fakta perpindahan sejumlah penduduk dari kota ke kampung halaman, dari tempat suatu tempat menuju ke tempat yang lain. Mobilitas vertikal secara rohani dapat ditandai dengan seorang beriman menjadi orang yang bertakwa, adanya pengurangan jumlah pengagguran saat selesai arus mudik karena adanya sebagian penduduk yang ikut bekerja di perkotaan, kenaikan jabatan seorang pegawai negeri setelah ramadan karena sejumlah prestasi atau semisal lain yang bisa dikatakan dalam mobilitas vertikal. Dengan demikian untuk membantu proses mobilitas yang luar biasa itu maka disetiap tahun berbagai elemen masyarakat dan pemerintah membantu seluruh prosesnya. Misalnya saja, Kepolisian mempersiapkan pos mudik lebaran dengan membangun posko-posko arus mudik dengan bekerja sama dengan sejumlah masyarakat baik itu Hansip, petugas kesehatan, dan organisasi masyarakat. Hal ini diharapkan dapat memberikan rasa keamanan dan kelancaran saat arus mudik. Sehingga bisa dikatakan banyak elemen yang ikut serta dalam arus mudik baik itu keamanan yang diwakili oleh kepolisian, kelancaran transportasi seperti Kementerian Perhubungan bekerjasama dengan kepolisian, bidang kesehatan dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, bahkan bidang energi pun juga ikut serta dalam hal ini seperti BUMN untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar yang meningkat saat arus mudik dan kegiatan untuk perayaan hari kemenangan.
Saat bulan Ramadan hingga berakhirnya, terdapat sejumlah alat teknologi yang digunakan untuk mempelancar aktifitas sejumlah kegiatan. Alat canggih seperti teropong digunakan untuk melihat hilal misalnya yang merupakan salah satu penentu dimulai atau berakhirnya bulan Ramadan. Ada juga sejumlah alat yang digunakan untuk memantau arus mudik lebaran seperti CCTV dan alat penghitung jumlah kendaraan yang lewat di sebuah jalan tertentu. Bukan hanya itu saja sejumlah aplikasi digital seperti GPS, jadwal imsakiyah, dan alat komunikasi modern juga memiliki peranan penting saat bulan Ramadan hingga arus mudik, Idul Fitri dan sejumlah aktifitas lainnya.

Sejumlah hal sosiologis lain tentu saja sangatlah banyak dengan berbagai fenomenya dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Hal inilah yang seharusnya menjadi faktor untuk tetap bertafakur dan selalu memperbaiki diri untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan yang lebih luas. Dengan demikian diharapkan semua aktifitas saat Ramadan dengan segala hal yang terkait dengannya menjadi lebih baik dari sisi kualitas dan kuantitas baik itu secara konteks rohani maupun konteks sosial/ kemanusiaan.

Dengan adanya tulisan singkat ini harapkan yang ada tentunya adalah bahwa semua kebaikan yang telah dilakukan menjadi sebuah catatan kebaikan yang dapat diterima oleh Sang Pencipta Alam Semesta. Harapan yang lain adalah tetap diberikan kesehatan dan umur yang berkah sehingga di masa depan masih diberikan kesempatan untuk bertemu bulan yang penuh kemuliaan tersebut.

Pada akhirnya, semua aktifitas tersebut di atas diharapkan dapat menjadikan seorang muslim semakin beriman kepada Tuhannya dan kemudian menjadi insan kamil sebagaimana dalam tujuan awal disyariatkannya puasa dalam bulan Ramadan.

#Saya a.n Danu Aris Setiyanto sebagai admin blog ini (http://indonesia-berjuang45.blogspot.co.id/)
#Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H
#Mohon Maaf Lahir dan Batin
#Semoga amal Ibadah diterima olehNya
#Dan masih diberikan dipertemukan bulan yang penuh kemuliaan di tahun-tahun berikutnya.


Terima Kasih dan Semoga bermanfaat.
Surakarta, 5 Juli 2016