Budaya Membaca dan Membaca Budaya

Oleh: Danu Aris Setiyanto


Sungguh prihatin, ketika suatu saat pernah masuk perpustakaan di salah satu lembaga Islam apalagi dengan nama “Pondok Pesantren”. Buku tidak tertata rapi, beberapa buku berjatuhan di lantai, ruangan inipun pengap, tidak bersih, tampak benda-benda yang seharusnya tidak ada diperpustakaan. Ruangan ini tampak seperti gudang yang tidak terurus. Sungguh kasihan perpustakaan tersebut. Jika malam masuk ruangan tersebut, dipastikan harus siap dengan alat bantu penerang karena kondisi lampu yang mati. Tak ada yang bisa disalahkan atas kejadian di atas, keterbatasan sumber daya manusia bisa menjadi penyebabnya, rendahnya kesadaran akan pentingnya perpustakaan/buku juga sangat mempengaruhi, dsb.

Padahal perpustakaan adalah “nyawa” dunia pendidikan itu sendiri. Perpustakaan adalah merupakan tempat penting dalam kehidupan manusia, apalagi dalam sebuah instansi pendidikan di semua level pendidikan. Perpustakaan adalah tempat untuk budaya membaca dan membaca budaya. Maka tak heran jika kita melihat perpustakan terbaik di Indonesia dibangun dengan dana besar, mencapai 4/ 5 lantai, lengkap dengan berbagai koleksi buku baik digital maupun cetak. Bukan hanya itu perpustakaan yang baik juga memiliki sarana khusus, seperti ruang rapat/pertemuan, mushola, pelayanan fotocopy, dan sebagainya. Selain itu, perpustakaan juga harus menggunakan sistem teknologi modern dalam pelayanan, sanggup melayani kaum cacat/ difabel dengan maksimal. Dan tentunya terus menjalin kerjasama dengan jurnal internasional walaupun dengan dana yang besar.

Reading is Your Window to A New World” pesan singkat ini sering ada di buku saat masih sekolah dasar dan menengah. Ilmu yang sebelumnya tidak diketahui sebelumnya, terkadang hanya bisa diketahui dengan membaca. Membaca terkait dalam hal ini adalah mencakup membaca dalam arti sempit yaitu membaca teks/ buku. Karena membaca bisa bermakna luas, seperti membaca denah, membaca peta/simbol, membaca situasi/kondisi dll.

Di abad modern, terkadang manusia bisa membaca buku tebal tanpa harus membawanya dengan susah dan berat. Buku tebal tersebut sudah ada dalam file elektronik, cukup dalam genggaman, cukup dengan sentuhan tangan, dan cukup duduk tenang sambil santai. Hal ini menjadikan lebih praktis, cepat dan mudah untuk dibawa. Maka tak heran beberapa perpustakaan terbaik dunia memiliki koleksi digital dan jurnal online/elektronik dengan dana milyaran rupiah.

Kebiasaan membaca buku atau teks inilah kemudian bisa menimbulkan membaca budaya. Budaya secara umum diartikan hasil karya manusia itu sendiri. Budaya tentu saja berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka tidaklah heran jika sebelumnya ada Kementerian Pendidikan dan Budaya. Hal ini bisa jadi karena pendidikan dengan “budaya membaca” diharapkan menghasilkan “membaca/menghasilkan budaya” yang arif dan luhur.

Dalam Islam, terlepas adanya perbedaan pendapat; jika dilihat dalam studi Al-Qur’an ayat pertama turun adalah dengan lafal “Iqra ....” yaitu Bacalah. Membaca yang dimaksud dalam ayat pertama surat Al-Alaq tentunya memiliki makna lebih luas, bukan hanya membaca dalam arti tekstual. Tapi pada intinya seorang muslim haruslah membaca, apapun kesibukkan dan aktivitasnya.

Misalnya, Seorang muslim yang taat biasanya menyempatkan untuk membaca al-Quran; seorang siswa biasanya membaca pelajaran sekolah, seorang guru membaca artikel/buku sesuai dengan keahliannya, seorang hakim membaca putusan dan sebagainya. Bahkan idealnya, seorang yang membeli makanan membaca tanggal kadaluarsa, seorang yang berkendaraan idealnya membaca rambu-rambu lalu lintas, seorang yang yang membeli barang idealnya membaca petunjuk penggunaaan/perawatan dan sebagainya.

Begitulah kehidupan manusia yang sebenarnya tak lepas dari “budaya membaca” dan “membaca budaya”.

_____________Write to be understood, speak to be heard, READ TO GROW____________

Surakarta, 3 April 2016

0 comments:

Post a Comment

Silahkan meninggalkan komentar!