Rasionalitas dan Religiusitas terhadap Fenomena Gerhana Matahari

Oleh: Danu Aris Setiyanto


Masyarakat memandang adanya peristiwa alam, fenomena alam atau kejadian alam terutama yaitu gerhana matahari bervariasi. Manusia disuatu sisi hanya memandang bagaimana caranya terjadi fenomena alam “ min kaifiyati wuquihaa” baik gerhana matahari, baik gerhana bulan, gerhana matahari, banjir, longsor dan sebagainya. Dari pandangan inilah kemudian muncullah ilmu Pengetahuan. Fenomena sudah bisa dihitung, diprediksi, diketahui waktu dan tempatnya sebelum hari kejadian. Dalam hal ini disebut dengan ilmu astronomi, ilmu perbintangan, dan dalam islam disebut dengan ilmu astronomi islam yang sering disebut ilmu falak.

Pada masa lampau, masa Rasullullah dan di masa nenek moyang, peristiwa alam selalu dikaitkan seperti dengan meninggalnya seorang tokoh, ada bencana besar dan kemuncullan tokoh. Bahkan nenek moyang mengatakan bahwa fenomena alam ada kemurkaan/kemarahan besar dari sesuatu diluar manusia karena merasa tidak rela dengan perbuatan manusia dengan manusia, sehingga munculah gerhana, bencana longsor dan sebagainya. Pada zaman dulu gerhana dikaitakan dengan adanya kemunculan raksasa besar, gerhana dimakan naga.Hal inilah berbagai pandangan masyarakat terhadap fenomena alam jika dikaitkan dengan bagaimana proses terjadinya/ “min kaifiyatu wuquihaa”. Jika kita melihat asbabul wurud hadist tentang diperintahkannya shalat gerhana maka terlihat bahwa gerhana dikaitkan dengan adanya meninggalnya seorang tokoh yaitu meninggalnya putra Muhammad yaitu Ibrahim. Pada awalnya mereka melihat gerhana dari bagaimana proses terjadinya/“min kaifiyatu wuquihaa”.

Kalau umat Islam hanya melihat fenomena gerhana matahari dari bagaimana proses terjadinya/“min kaifiyatu wuquihaa” maka tidak ada bedanya dengan orang barat yang hanya melihat dari ilmu pengetahuan/rasionalitas saja. Kita bisa menyaksikan orang barat ketika matahari datang ke Idonesia untuk melihat fenomena ini untuk observasi, mendokumentasikan dan bahkan meneliti kepentingan ilmiah semata.

Disisi lain sebagian orang melihat bahwa peristiwa gerhana adalah sesuatu yang telah digariskan/ditetapkan oleh Allah untuk mereflesikan terhadap diri, intrupreksi diri. “Apa tugasnya di dunia ini, dan apa tujuannya kedepan?”. Tetapi manusia sebagian terlau mementingkan hal ini sehingga mereka lupa bagaimana bagaimana terjadinya/“min kaifiyatu wuquihaa”. Mereka terlalu takut dan masuk masjid kemudian shalat sebanyak-banyaknya dan kemudian zikir sebanyak-banyaknya, kemudian mereka justru melupakan bagaimana terjadinya/“min kaifiyatu wuquihaa”.


Sehingga dari penjelasan diatas, idealnya seorang muslim bisa mengkombinasikan/menggabungkan kedua hal pandangan di atas. Disisi lain tetap melihat bagaimana terjadinya/“min kaifiyatu wuquihaa” dan juga tetap merefleksikan serta intrukpeksi diri. Hal ini juga sesuai dengan asbabul wurud hadist tentang shalat gerhana yang disitu pula dikaitkan dengan proses terjadinya, kemudian dikaitkan pula dengan Keagungngan Allah. Kemudian seorang muslim juga menundukan diri dan bersujud, shalat gerhana, berzikir dan selanjutnya dianjurkan untuk melihat gerhana matahari agar kita tidak salah memahami proses gerhana matahari.


Perlu untuk dicermati, bahwa shalat gerhana hanya bagian dari ibadah saat gerhana matahari. Maka juga dianjurkan pula dengan doa, takbir, tahmid, sedekah, zikrullah, tasbih dan istigfar serta amalan lain yang bermanfaat. Semoga ucapan-ucapan yang mulia saat ada gerhana hari ini menjadi sebuah amal ibadah dan doa yang telah dipanjatkan dikabulkan oleh Allah.


Allah Maha Benar dengan Segala Maha Kekuasaan-Nya.

0 comments:

Post a Comment

Silahkan meninggalkan komentar!